Semua bejalan seperti biasanya setiap
akhir pekan kami bertiga selalu makan malam bersama dan pria itu selalu menjadi orang pertama
yang selesai makan dan segera beranjak meninggalkan meja makan. Tidak lama
kemudian wanita itu juga selesai menyantap makan malamnya dan memberi isyarat
padaku bahwa ia akan merapihkan meja makan, aku tidak menjawab hanya memberikan
isyarat juga bahwa akupun sudah selesai makan.
Ia mulai mengangkat piring-piring
kotor dan saat akan mengambil piring
kotor bekas pria itu makan ia diam mematung sambil menatap piring kotor itu
dengan nanar dan penuh kebencian. Belum sempat aku berkata apa-apa kepadanya, dengan secepat kilat ia melempar piring itu kelantai dan hancurlah piring itu
hingga berkeping-keping.
“Sudah 20 tahun berlalu, mengapa
engkau masih saja menyisakan makananmu ? mengapa engkau masih saja membiarkan
suapan terakhirmu ? aku bukan dia….aku bukan dia yang akan memakan suapan
terakhirmu, aku sudah muak dengan semua ini !!!”.
Melihat kejadian itu aku pun
membanting piring kotor yang masih kupegang “Aku juga sudah muak dengan sikapmu,
sampai kapan kau akan terus bersikap seperti ini ? mengapa kau masih saja
cemburu dengan Ibuku yang sudah mati?” ucapku.
Tidak lama kemudian pria yang
tadi meninggalkan meja makan kembali menghampiri namun ia hanya mampu berdiri…ya…hanya
berdiri sambil melihat apa yang terjadi dan aku tahu ia menyimpan luka dan perih yang tak terperi.

