Assalamu’alaykum warahmatullahi
wabarokatuh,
Hallo Dreamers, pada tanggal 04 November 2017
kemarin saya dan teman-teman Liqo mendapatkan amanah untuk menjadi panitian
Liqo gabungan dan juga diminta untuk mengundang pembicara dari luar, Alhamdulillah
salah satu dari teman kami mempunyai kenalan seorang Ustadzah yang sangat
inspiratif sekali yakni Ustadzah Tri Handayani.
Tema Liqo pekan lalu adalah “Tegar Di Jalan
Dakwah”, namun sebelum Ustadzah atau yang familiar dengan panggilan Ummi Tri
memulai materi, beliau bercerita tentang
kondisi beliau yang dimana ternyata beliau adalah seorang Cancer Survivor sampai detik ini pun beliau masih berjuang melawan
penyakit kanker. Tidak tanggung-tanggung ada 7 jenis kanker yang “menyerang”
tubuh beliau.
Beliau sudah berkali-kali menjalani operasi,
sempat koma hingga 7 hari, divonis tidak akan memiliki keturunan dan bahkan
diprediksi tidak akan memiliki usia yang panjang, itu prediksi ilmu manusia….
qodarulloh beliau masih dapat berdiri tegaksampai saat ini untuk berbagi ilmu dengan kami suami
dan saat ini beliau sudah memiliki 2 orang putra yang sudah beranjak dewasa.
Saat ini Ummi Tri mendedikasikan dirinya
untuk berdakwah , dengan kondisi fisik yang sedemikian rentan namun semangat
beliau yang membara dapat mengalahkan semuanya ditambah lagi dengan adanya
dukungan dari suami serta putra-putra beliau yang luar biasa. Jujur saya dan
teman-teman yang hadir tidak dapat menahan air mata kami untuk menetes
mendengar kisah hidup beliau. Air mata haru dan takjub yang luar biasa sehingga
kami merasa “malu hati” jika melihat kondisi fisik kami yang Alhamdulillah
diberikan kesehatan oleh Allah namun masih saja “jalan di tempat” dalam
kegiatan dakwah.
Setelah bercerita sedikit seputar kisah
hidupnya Ummi Tri pun berbagi ilmunya dengan kami sesuai dengan tema yang kami
usung yakni “Tegar Di Jalan Dakwah”, berhubung kemarin saat menghadiri Liqo
Gabungan saya sambil membawa anak dan merangkap menjadi Seksi Dokumentasi, maka
saya tidak sempat mencatat poin-poin penting dari materi yang diberikan, namun
Alhamdulillah sambil menggendong anak saya sempat mendengarkan ceramah dan
memotret slide beliau yang kurang
lebih materinya seperti dibawah ini setelah saya sunting seperlunya namun tidak merubah inti dari materinya :
“Tegar Di
Jalan Dakwah” Oleh Ustadzah Tri Handayani
Landasan berdakwah : Amar ma'ruf dan Nahi munkar (QS. Al-Imran: 104)
Mengapa
harus berdakwah :
- Sudah menjadi sunnatullah - dakwah akan terus
ada, berdakwah tidak melulu dengan cara ceramah dan harus menjadi Ustadzah karena inti berdakwah adalah
"mengajak".
- Melanjutkan dakwah Rasulullah SAW.
- Menegakkan khilafah islamiyah.
- Menghadapi
dan mencari solusi dari kondisi umat saat ini.
- Menghadang
& melawan segala bentuk kemungkaran.
- Mengkawal hukum islam dalam
pengamalannya di tengah umat.
- Menghadapi musuh-musuh Allah SWT dengan
berbagai kelicikan mereka.
Tingkatan
dakwah terdiri dari :
- Dakwah fardhiyah/pribadi.
- Dakwah keluarga.
- Dakwah masyarakat.
- Dakwah umat.
Karakter
jalan dakwah yaitu :
- Keras, terjal, panjang, dan berliku.
- Penuh ujian dan cobaan yang menghadang.
- Lelah, kurang istirahat, hasilnya tidak
dapat langsung dilihat/dinikmati.
- Pengorbanan harta, waktu, tenaga,
pikiran, air mata, darah, hingga nyawa.
- Banyak yang mencemooh, menghina, dan
menghujat.
- Tidak banyak yang mau mengikuti/sedikit
pengikutnya
Keutamaan dakwah yaitu :
- Dakwah menjadi utama karena ia adalah Muhimmatur Rasul (tugas para nabi
dan rasul.
- Dakwah adalah Ahsanul Amal (sebaik-baik amal).
- Dengam berdakwah seorang muslim meraih
meraih pahala yang teramat besar (Al
husnul 'alal ajri al azhim) dan kenikmatan abadi di surga-Nya.
- Dakwah dapat menyelamatkan da'i dari
adzab Allah SWT dan pertanggungjawaban di akhirat.
- Dakwah adalah jalan menuju terbentuknya Khairu Ummah (umat yang terbaik).
- Dakwah membawa seorang da'i pada kehidupan Rabbaniyah (Al hayah ar rabbaniyah) dan menuju pada kehidupan barakah (Al hayah al mubarakah).
Karakter yang
diperlukan dalam berdakwah :
- Memiliki iman yang kuat.
- Memiliki ahlaqul karimah.
- Sabar dan ikhlas.
- Cerdas dan berwawasan luas.
Kiat tegar
di jalan dakwah :
- Interaksi dengan Alquran (QS. 25: 32-33).
- Iltizam (komitmen) dengan syariat dan amal
shalih (QS. 14:27).
- Banyak berdoa (QS. 2:186).
- Senantiasa berdzikir kepada Allah (QS.
8:45)
- Kuatkan tarbiyah :
a) Tarbiyah imaniyah
(pembinaan).
b)
Tarbiyah ilmiyah
(ilmu).
c)
Tarbiyah wa'iyah (sadar).
d)
Tarbiyah mutadarijjah (bertahap).
- Berada di antara kader-kader dakwah yang
tegar (QS. 9:16).
- Yakin akan pertolongan Allah dan masa
depan milik islam (QS. 3:146).
- Aktif
melakukan amal shalih bagi diri, keluarga, masyarakat, dan umat.
Saya pribadi sering berpikir dan berkata
kepada diri sendiri “Ahh ga bisa dakwah”, “Aah bukan Ustadzah”, “Aah repot
ngurus suami”, “Aah repot ngurus anak” dan banyak alasan-alasan lainnya yang
membuat saya urung berdakwah, Astaghfirulloh…….padahal dakwah tidaklah sesulit
seperti yang saya bayangkan asalkan ada niat yang kuat dan keinginan yang
dapat direalisasikan, berdakwah bisa
dimulai dari hal-hal yang kecil dan juga
dari lingkungan serta orang-orang terdekat kita.
Melihat Ummi Tri dengan segala keterbatasannya
beliau mampu berdakwah dan membuat dirinya berguna bagi orang lain dalam rangka
mengharap ridho Illahi rasanya diri ini bagaikan dicambuk dan wajah ini seperti
ditampar-tampar. Oiya pada saat sesi tanya jawab kemairn ada yang bertanya
seputar tips bagaimana caranya Ummi Tri
dalam mengatur waktunya antara mengurus keluarga serta aktifitas berdakwah dan inilah tips dari
beliau :
Kiat-kiat
manajemen waktu (sebagai Da'iyah, ibu, dan istri) :
- Komunikasi antar anggota keluarga itu
penting, semua anggota keluarga
kita setidaknya harus memahami jadwal kita dan terlebih harus memahami
urgensi berdakwah. Tak hadirnya kita di rumah bukan berarti kita tak
memberikan perhatian untuk keluarga.
- Ukur skala prioritas. Kesibukan tak akan
menjadi halangan jika kita telah memiliki skala prioritas / manajemen
waktu yang baik.
- Tidak ada loss time. Ingat tak ada yang
sia-sia jika kita beramal murni untuk keridhaan Allah (dalam hal ini
berdakwah).
- Biasakan
untuk muhasabah diri untuk menghindari Futuur
Iman.
“Aku
menyebutnya pelangi. Hidupku adalah silih bergantinya warna pelangi yang
memberi makna berbeda-beda dalam hidupku. Orang bilang pelangi punya tujuh
warna primer yang cerah. Tapi aku menambahkan warna hitam di dalamnya. Ya,
hitam selalu tersisih. Kita sering menyebut hal negatif dengan hitam, padahal
hitam hanyalah tampak dalam pandangan kita. Ada banyak warna di balik warna
hitam. Warna pelangi tidak akan indah jika tidak ada warna hitam di langit
sebelum datangnya pelangi. Inilah kisah pelangiku.”
Kutipan di atas adalah tulisan Ustadzah Tri
Handayani dalam bukunya yang berjudul “Mengejar Pelangi” yang ditulis bersama
dengan Pipiet Senja.
Semoga semangat serta ilmu yang beliau
sampaikan dapat menginspirasi kita semua agar tidak menunda-nunda dalam berbuat
kebaikan dan juga tidak lelah dalam berdakwah, semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaykum warahmatullahi
wabarokatuh.


