“Paradise has eight gates, and one of them is called Ar-Raiyan
through which none will enter but those who observe fasting.” (Prophet Muhammad
S.A.W)
Picture : http://wathakker.info/english//designs/images/taqwa_BG.jpg
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarokatuh,
Bulan Ramadhan adalah bulan yang
dimana kita diwajibkan untuk menjalankan
ibadah puasa selama satu bulan lamanya. Kita semua tahu bahwa yang dimaksud
puasa yaitu menahan rasa lapar, haus, dahaga, amarah, serta menahan hawa nafsu
lainnya.
Namun apakah kita pernah berpikir atau
mungkin merenung sejenak esensi dari puasa itu sendiri, bahwasannya puasa bukan
hanya menahan lapar, haus serta hawa nafsu pada bulan Ramadhan saja lalu setelah
Ramadhan usai maka kita membiarkan diri kita dikuasai dan diperbudak oleh nafsu
kita.
Menjalankan ibadah puasa justru adalah
sebuah proses yang harus kita lalui untuk memetik “buah manis keberhasilan”
hasil perjuangan kita selama kurang lebih satu bulan lamanya, buah manis
tersebut yaitu buah dari hasil kita menjalankan ibadah puasa.
Salah satu buah yang akan kita petik setelah
kita menjalankan ibadah puasa adalah “buah taqwa” alias ketaqwaan, yang dimana
harapannya apabila seseorang sudah menjalankan ibadah puasa Ramadhan adalah
meningkatnya ketaqwaan dirinya kepada Allah.
Nah…..untuk “mengukur” kadar ketaqwaan kita,
berikut ini saya akan berbagi ciri-ciri orang taqwa, namun sebelumnya mari kita
simak firman Allah dalam surat Ali Imron ayat 133-135 :
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan
untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan
keji atau menganiaya diri sendiri, mereka
ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa
lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah ? dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu
balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir
sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala
orang-orang yang beramal.”
Berdasarkan ayat tersebut di atas, maka
dapat ditarik sebuah kesimpulan sederhana tentang beberapa ciri orang bertaqwa,
yaitu sebagai berikut :
- Orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang menginfaq-kan hartanya baik dalam keadaan sedang maupun dalam keadaan susah.
- Orang yang bertaqwa mampu menahan amarah, sehingga kemarahan yang ada dalam dirinya tidak membuatnya untuk berkata kotor dan berbuat jahat, ia akan mengumpulkan segenap kesabarannya untuk menguasai amarahnya.
- Orang yang bertaqwa mau memaafkan kesalahan orang lain, karena ia sadar bahwasannya seluruh manusia pernah bersalah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang mau mengakui kesalahannya dan mau bertaubat kepada Allah. Allah saja maha memaafkan apalagi kita manusia biasa makhluk ciptaan Allah.
- Orang yang bertaqwa apabila berbuat keji atau berbuat dzolim kepada diri sendiri maka ia bersegera mengingat Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Orang yang bertaqwa tidak akan menunda untuk bertaubat dan mengucapkan istighfar.
- Orang yang bertaqwa tidak terus menerus melakukan kedzoliman, ia tidak akan terjerumus kedalam kesalahan sebagaimana seseorang yang terjerumus kedalam rawa berlumpur. Orang yang bertaqwa akan segera mengingat Allah dan segera memohon ampun kepada-Nya apabila melakukan suatu kesalahan.
Demikianlah beberapa ciri-ciri dari orang
yang bertaqwa, dan sekarang mari kita “bercermin” dan tanyakan kepada diri kita
masing-masing apakah puasa kita sudah membentuk kita menjadi orang yang
bertaqwa ? ataukah puasa kita masih sebatas puasa menahan lapar dan dahaga dari
pagi hingga sore semata ?
Setelah selesai menjalankan ibadah puasa di
bulan Ramadhan itu bukanlah akhir dari perjuangan kita, masih ada perjuangan
lain setelah itu, yaitu kita harus menjadikan ibadah puasa sebagai salah satu
jalan kita menjadi untuk menuju taqwa.
Mari kita tingkatkan kualitas puasa kita
hingga menjadi puasa yang benar-benar membentuk kita menjadi pribadi-pribadi
yang bertaqwa, taqwa bukan hanya dalam ucapan tetapi juga taqwa dalam amal
perbuatan.
Semoga bermanfaat ^^.




