Sunday, October 22, 2017

A Confession



Dari kejauhan aku sudah mengenali orang yang aku cari dari pakaian yang ia kenakan, melihatnya berdiri disana ingin rasanya aku langsung mendekat , namun apa daya kerumunan orang-orang membuatku sulit untuk bergerak, semua tampak saling berhimpitan dan terasa begitu sesak.

Aku mencoba mengalihkan perhatianku dari dirinya, namun hati kecil ini berkata bahwa aku harus mendekatinya, akhirnya dengan penuh keraguan aku berusaha melangkah perlahan. Aku berpegangan pada apa saja yang dapat aku pegang dan mencoba memanggil pria itu dari kejauhan.

Rupanya ia tetap berdiri tak bergeming dan tidak mendengar bahwa aku memanggilnya, justru orang-orang di sekeliling yang mendengar dan menoleh padaku seraya memberikan aku jalan agar aku dapat dengan mudah mendekatinya.

Setelah perjuanganku yang cukup sulit akhirnya aku berada tepat di belakang pria itu, dan aku kembali memanggilnya “Mas…” ia menoleh dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.  “Mas…saya hamil” ucapku. Ia menatatpku seolah tidak percaya, pun dengan orang-orang disekitar kami, mereka ikut menatapku sambil terdiam.

Sebetulnya berat bagiku untuk memberitahukan kehamilanku kepadanya karena aku ragu apakah hal ini akan membawa kebaikan atau tidak, namun jika aku tidak memberitahukannya sepertinya ia tidak tahu dan ia tidak akan melakukan tanggung jawabnya untuk menjagaku.

Aku mengulangi kata-kataku “Mas..saya hamil” ia kembali menatapku, melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu terdiam. Aku dia mematung menunggu apa yang akan ia lakukan setelah aku memberitahunya bahwa aku hamil, dan tidak lama kemudian ia melihat-lihat kedepan dan belakang seraya berkata “Mohon kursi prioritasnya ya…ini ada Ibu hamil” ucapnya sambil memberiku isyarat agar aku mengikutinya ke gerbong kereta yang isi penumpangnya campur antara pria dan wanita.