Dari kejauhan aku sudah mengenali
orang yang aku cari dari pakaian yang ia kenakan, melihatnya berdiri disana
ingin rasanya aku langsung mendekat , namun apa daya kerumunan orang-orang
membuatku sulit untuk bergerak, semua tampak saling berhimpitan dan terasa
begitu sesak.
Aku mencoba mengalihkan
perhatianku dari dirinya, namun hati kecil ini berkata bahwa aku harus
mendekatinya, akhirnya dengan penuh keraguan aku berusaha melangkah perlahan. Aku
berpegangan pada apa saja yang dapat aku pegang dan mencoba memanggil pria itu
dari kejauhan.
Rupanya ia tetap berdiri tak
bergeming dan tidak mendengar bahwa aku memanggilnya, justru orang-orang di
sekeliling yang mendengar dan menoleh padaku seraya memberikan aku jalan agar
aku dapat dengan mudah mendekatinya.
Setelah perjuanganku yang cukup
sulit akhirnya aku berada tepat di belakang pria itu, dan aku kembali
memanggilnya “Mas…” ia menoleh dengan wajah yang datar tanpa ekspresi. “Mas…saya hamil” ucapku. Ia menatatpku seolah
tidak percaya, pun dengan orang-orang disekitar kami, mereka ikut menatapku
sambil terdiam.
Sebetulnya berat bagiku untuk
memberitahukan kehamilanku kepadanya karena aku ragu apakah hal ini akan membawa
kebaikan atau tidak, namun jika aku tidak memberitahukannya sepertinya ia tidak
tahu dan ia tidak akan melakukan tanggung jawabnya untuk menjagaku.
Aku mengulangi kata-kataku “Mas..saya
hamil” ia kembali menatapku, melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala,
lalu terdiam. Aku dia mematung menunggu apa yang akan ia lakukan setelah aku
memberitahunya bahwa aku hamil, dan tidak lama kemudian ia melihat-lihat
kedepan dan belakang seraya berkata “Mohon kursi prioritasnya ya…ini ada Ibu
hamil” ucapnya sambil memberiku isyarat agar aku mengikutinya ke gerbong kereta
yang isi penumpangnya campur antara pria dan wanita.


No comments:
Post a Comment