Tuesday, September 29, 2015

We Know, But ….



“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” 
(QS. Al-A’raf : 205).


Picture : www.fatakat.com



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,


Setiap hari Senin jam 1 siang saya memiliki agenda mingguan yaitu Weekly Management Meeting bersama dengan para Departement Head dan Manager di kantor tempat saya bekerja. Selain berperan sebagai perwakilan dari Departemen HR saya juga berperan sebagai koordinator dan moderator yang memimpin kegiatan meeting tersebut.

Hari senin kemarin, sebelum menutup kegiatan Weekly Meeting itu saya sedikit sewot…. bisa dibilang naluri emak-emaknya keluar karena saya ngomel-ngomel hehehe….. kenapa ? karena pagi-pagi saat saya baru sampai di kantor dan melewati tempat parkir saya melihat sampah  berserakan dimana-mana entah itu puntung rokok, gelas  bekas minum kopi, bungkus makanan dll. Padahal ditempat parkir kantor telah disediakan tempat sampah di setiap penjuru dan juga banyak sekali poster yang memang ditempel di tembok sebagai pengingat agar karyawan tidak membuang sampah sembarangan.

Hari-hari sebelumnya jika saya datang pagi-pagi melewati lokasi parkir, tempat tersebut sudah bersih karena sudah dibersihkan oleh Office Boy kami, dan kemarin Office Boy kami tidak masuk kerja karena ada keperluan sehingga tidak ada yang membersihkan sampah di tempat parkir tersebut dan barulah ketahuan belangnya bahwa kesadaran karyawan untuk membuang sampah sangatlah kecil.

Dalam keadaan emosi saya mengambil foto dari sampah-sampah tersebut dan kemarin saya tunjukan kepada para Departement Head, saya tidak menuduh satu atau dua orang sebagai pelakunya karena saya sadar bahwa kebersihan kantor merupakan tanggung jawab kita bersama meskipun kita sudah memiliki petugas kebersihan sekalipun. Dan di meeting kemarin saya meminta agar para Department itu memberikan pengarahan kepada seluruh karyawan/anak buah mereka agar dapat memperbaiki sikapnya dan lebih meningkatkan kesadarannya untuk menjaga kebersihan lingkungan kantor.

Sering dalam kehidupan sehari-hari kita mengetahui hal yang sebaiknya kita lakukan namun kita abaikan karena sifat lalai dan malas yang menghantui kita. Begitupun sebaliknya banyak hal buruk yang sebaiknya tidak kita lakukan karena akan merugikan namun tetap saja kita perbuat padahal kita sendiri sadar bahwa sikap baik dan sikap buruk yang kita lakukan masing-masing memiliki konsekuensi yang harus kita tanggung.

Pengalaman saya kemarin mengingatkan saya pada sebuah kisah dari Imam Ibnul Qayyim, yang dimana dalam menjalankan kewajiban agama,  kita sebagai amba Allah sering kali lalai dan juga “bernegosiasi” dengan diri kita sendiri  serta mencari beribu alasan sebagai pembelaan diri atas kelalaian kita tersebut.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengisahkan: "Seorang anak perempuan meninggal karena Tho’un (wabah), kemudian ayahnya melihatnya di dalam mimpi, maka ayahnya berkata kepadanya: "Wahai anakku kabarkan kepadaku tentang akhirat!"

Anak perempuan itu menjawab: "Kami telah melewati perkara yang sangat besar, dan sesungguhnya kita telah mengetahui, tapi kita tidak mengamalkannya. Demi Allah, sesungguhnya satu ucapan tasbih atau satu rakaat sholat yang tertulis dalam lembaran amalku lebih aku sukai daripada dunia dan seluruh isinya.”

Berkata Ibnul Qayyim: "Anak perempuan itu telah mengatakan perkataan yang dalam maknanya (sesungguhnya kami mengetahui, tapi kita tidak mengamalkan), akan tetapi banyak diantara kita yang tidak memahami maknanya."

  • Kita mengetahui, bahwa ucapan Subhanallahi wa bihamdihi sebanyak 100 kali  akan  menghapuskan dosa-dosa kita, walaupun dosa kita sebanyak buih di lautan. Akan tetapi sayang... Berapa banyak hari kita yang berlalu tanpa kita mengucapkannya sedikitpun.

  • Kita mengetahui, bahwa pahala  dua rakaat Dhuha setara  dengan pahala 360 shodaqah, akan tetapi sayang... Hari berganti hari tanpa kita melakukan sholat Dhuha.

  • Kita mengetahui, bahwa orang yang berpuasa sunnah karena Allah satu hari saja, akan dijauhkan wajahnya dari api  neraka sejauh 70 musim atau 70 tahun perjalanan. Tapi sayang, kita tidak mau menahan lapar.

  • Kita mengetahui, bahwa siapa yang menjenguk orang sakit akan diikuti oleh 70 ribu malaikat yang memintakan ampun untuknya... Tapi sayang, kita belum juga menjenguk satu orang sakit pun pekan ini.

  • Kita mengetahui, bahwa siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya sebesar sarang burung, akan dibangunkan sebuah rumah di surga. Tapi sayang, kita tidak tergerak untuk membantu pembangunan masjid walaupun hanya dengan beberapa puluh ribu.

  • Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu janda dan anak yatimnya, pahalanya seperti berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang berpuasa sepanjang hari tanpa berbuka, atau orang yang sholat sepanjang malam tanpa tidur.  Tapi sayang, sampai saat ini kita tidak berniat membantu seorang janda pun.

  • Kita mengetahui, bahwa orang yang membaca satu huruf dari Al Qur'an, baginya sepuluh kebaikan dan satu kebaikan akan dilipat gandakan sepuluh kali. Tapi sayang, kita tidak pernah meluangkan waktu membaca Al Qur'an dalam jadwal harian kita.
  • Kita mengetahui, bahwa Haji yang mabrur, tidak ada pahala baginya kecuali surga, dan akan diampuni dosa-dosanya sehingga kembali suci seperti saat dilahirkan oleh ibunya. Tapi sayang,  kita tidak bersemangat untuk melaksanakannya, padahal kita mampu melaksanakannya.

  • Kita mengetahui, bahwa orang mukmin yang paling mulia adalah yang yang paling banyak sholat malam, dan bahwasanya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya tidak pernah meremehkan sholat malam di tengah segala kesibukan dan jihad mereka. Tapi sayang kita terlalu meremehkan sholat malam.

  • Kita mengetahui, bahwa hari kiamat pasti terjadi, tanpa ada keraguan, dan pada hari itu Allah akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur. Tetapi sayang, kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk hari itu.

  • Kita sering menyaksikan orang-orang yang meninggal mendahului kita, tetapi sayang, kita selalu larut dengan senda gurau  dan permainan dunia seakan kita mendapat jaminan hidup selamanya dan tidak akan akan menyusul mereka.


Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.. Semoga kita segera merubah keadaan kita mulai detik ini, dan mempersiapkan datangnya hari perhitungan yang pasti akan kita hadapi.

Hari dimana kita mempertanggung jawabkan setiap perbuatan kita di dunia. 
Hari ketika lisan kita dikunci, sedangkan mata, kaki, dan tangan kita yang menjadi saksi..dan pada  hari itu, setiap orang akan lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, teman-teman dan anaknya, karena  pada hari itu setiap orang akan disibukkan dengan urusannya masing-masing.



“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan  itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami. 
(QS. Yunus : 7)




#SelfReminder
#NoteToMySelf




Semoga bermanfaat ^^

Monday, September 28, 2015

Help Me To Find You




“Tetapi aku (percaya bahwa) : Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”
 (QS. Al-Kahf : 15)





Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,


Akhir-akhir ini saya sedang senang berbagi sedikit kisah pribadi saya, semoga teman-teman tidak bosan ya hehehe. Setelah kemarin saya sharing tentang pengalaman saya dalam mengahadapi cobaan hidup, nah sekarang saya kembali akan sharing tentang pengalaman pribadi saat saya mulai hijrah dan tarbiyah.

Saya lahir ditengah-tengah keluarga yang pemahaman agamanya bisa dibilang biasa-biasa saja, saya pun menjalankan segala kewajiban perintah agama yaaa begitu-begitu saja, jadi apa yang diajarkan oleh orang tua yaaa saya jalani saja untuk cari aman tanpa memikirkan atau bertanya kenapa saya harus menjalankan hal itu dan juga tanpa adanya dasar keyakinan yang tertanam dalam diri saya.

Ketia saya duduk dibangku SMA saya mengalami sebuah masa-masa kritis yang dimana saya mempertanyakan tentang semua hal yang terjadi dalam hidup saja, mulai dari hal yang sederhana sampai hal yang sifatnya mulai kompleks  seperti  apa makna dari kehidupan dan mengapa saya harus beragama. Saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk menyendiri dan mulai mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan saya dari berbagai macam sumber, dari bertanya kepada orang-orang yang saya anggap kompeten membaca buku sampai dengan mempelajari beberapa kitab suci sebagai rujukan.

Saya pernah merasakan menjadi murid yang bandel dengan melakukan “cabut” alias tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar, dan saya memilih membaca buku di perpustakaan, nilai raport saya sempat menurun sampai orang tua saya dipanggil ke sekolah karena wali kelas saya merasa bahwa saya seperti memiliki “dunia lain” dan tidak mengindahkan kehidupan yang terjadi di sekitar saya dan yang paling parah saya sempat dipanggil guru agama dan juga diberikan ceramah oleh Kakak kelas yang meminta agar saya segera “bertaubat” karena menurut mereka saat itu pemikiran saya yang kritis mulai mendekati musyrik hehehe.

Saat itu saya juga membaca banyak buku Filsafat dan Tasawuf dari berbagai sumber dan penulis yang beragam. Saya juga pernah merasakan di bully oleh teman-teman saya karena saya dikira mengikuti aliran sesat dan saat itu orang tua saya juga memberikan saya banyak buku rohani dan keagaamaan untuk saya baca agar saya tidak tersesat di jalan yang salah.

Jujur, dulu saya merasa tertekan dan terpojok karena dimasa-masa ketika saya memiliki ribuan pertanyaan akan makna dan hakikat hidup justru saya malah dijauhi dan dianggap sesat, padahal sesungguhnya saya hanya butuh kekuatan untuk mendamaikan dan meyakinkan diri ini atas apa yang telah dan akan saya lakukan dalam hidup. 

Namun kini saya tidak menyalahkan mereka untuk segala bentuk sikap yang  telah mereka lakukan kepada saya justru kadang hal ini membuat saya senyum-senyum sendiri, bayangkan saja saat itu  ada anak perempuan usia 16 tahun yang dimana anak-anak sebayanya sedang menjalani kehidupan remaja yang penuh suka cita saya malah sibuk belajar filsafat, berkontemplasi dan mencari makna hidup...yaa pasti dianggap anehlah hehehehe.

Itulah sepenggal kisah saya dalam proses pencarian jati diri yang jika saya ceritakan semuanya nanti pasti kepanjangan hehe mungkin lain kali akan saya bahas secara terpisah bagaimana akhir dari proses “pencarian” saya untuk memperoleh pencerahan.

Sekarang saya ingin berbagi sebuah kisah ilustrasi sederhana yang sangat saya sukai tentang seseorang yang sedang mencari Tuhan.


Adalah seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, ia telah kembali ke tanah air, sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama (Ustadz) /siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaan darinya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut.


Pemuda : (Dengan nada sombong pemuda itu bertanya) "Anda siapa...?? dan apakah bisa menjawab pertanyaan saya...??"


Ustadz : "Saya hanyalah hamba ALLAH & dengan izin-NYA saya akan menjawab pertanyaan anda"


Pemuda  :(Tetap dengan nada sombong) "Anda yakin....?? sedang profesor & banyak orang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya"


Ustadz : "Insya Allah saya akan mencoba sejauh kemampuan saya...!!"


Pemuda  : "Saya punya 3 buah pertanyaan...??

  1.  Kalau memang TUHAN itu ada, tunjukkan wujud TUHAN kepada saya?
  2.  Apakah yang dinamakan TAKDIR...??
  3.  Kalau SETAN diciptakan dari api, kenapa dimasukkan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat setan, sebab mereka memiliki unsur yang sama? apakah TUHAN tidak pernah berpikir sejauh itu?
 
Tiba-tiba pemuka agama tersebut menampar pipi si pemuda dengan keras.


(sambil menahan sakit) si Pemuda berkata : "Kenapa...?? Anda marah kepada saya...??"


Ustadz : "Saya tidak marah...!!! Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya...!!"


Pemuda : "Saya sungguh-sungguh tidak mengerti...??!!"


Ustadz : "Bagaimana rasanya tamparan saya...??!!"


Pemuda : "Tentu saja saya merasakan sakit...!!"


Ustadz : "Jadi Anda percaya bahwa sakit itu ada...?!!"


Pemuda : "Ya... saya Percaya...!!"


Ustadz : "Tunjukkan pada saya wujud sakit itu...??!!"


Pemuda : "Saya tidak bisa...!!"


Ustadz : "Itulah jawaban pertanyaan pertama, kita semua merasakan keberadaan TUHAN tanpa mampu melihat wujud-NYA.


Ustadz : "Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya..??!!"


Pemuda : "Tidak...!!"


Ustadz: "Apakah pernah terpikir oleh Anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini...??!!"


Pemuda : "Tidak...!!"


Ustadz : "Itulah yang dinamakan TAKDIR...!!"


Ustadz : "Terbuat dari apakah tangan yang saya gunakan untuk menampar anda...??!!"


Pemuda : "Kulit...!!"


Ustadz : "Terbuat dari apa pipi Anda...??!!"


Pemuda : "Kulit...!!"


Ustadz : "Bagaimana rasanya tamparan saya...??!!"


Pemuda : "Sakit...!!"


Ustadz : "Walaupun setan terbuat dari api dan neraka terbuat dari api, jika TUHAN berkehendak, maka neraka akan menjadi tempat menyakitkan bagi setan".



Pertanyaan-pertanyaan si Pemuda di atas kurang lebih sama dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan pada saat saya duduk di bangku SMA dulu, namun beruntung bagi saya karena untuk “menemukan” Tuhan saya tidak perlu ditampar hehe.


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal : 27)



Semoga cerita pengalaman pribadi dan juga kisah di atas bisa membantu bagi teman-teman yang mungkin saat ini masih dalam proses “mencari”, semoga memberikan sedikit pencerahan dan ingatlah bahwa hidayah itu tidak akan datang dengan sendirinya jika kita tidak mencarinya ia tidak akan menghampiri kita, maka dari itu selain berdoa dan memohon agar diberikan hidayah…..jemputlah hidayah itu agar datang kepada kita.


Jika masih penasaran dengan kisah saya tentang proses “pencarian”,  tunggu di postingan berikutnya ya hehehe.


Semoga bermanfaat ^^

Monday, September 21, 2015

No Need a Shoulder To Cry On


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
 (QS. Al-Baqoroh : 286)








Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,

Beberapa  waktu yang lalu saya menghadapi beragam persoalan pribadi yang cukup rumit yang dimana tidak mungkin saya share disini dengan detail. Namun yang pasti saya menghadapi beberapa masalah yang cukup pelik untuk diselesaikan dan cukup menyita waktu, tenaga serta konsentrasi saya.

Saya mencoba untuk bercerita kepada orang-orang terdekat saya hanya sekedar untuk meminta pendapat, mencari kekuatan serta dukungan untuk segala keputusan, baik keputusan yang sudah saya ambil maupun keputusan yang akan saya ambil.

Jujur…. Saya adalah tipe pribadi yang cukup keras dalam  memperlakukan diri saya sendiri, saya selalu berkata bahwa saya pasti dapat menyelesaikan semua persoalan yang saya hadapi dan saya sadar mengapa saya berkata demikian karena saya sombong.

Sombong karena saya merasa kuat


Sombong karena saya merasa tahu banyak hal


Sombong karena saya adalah seorang praktisi HRD yang salah satu pekerjaanya memberikan konseling, mendengarkan curhatan karyawan, dan membantu mencari solusi untuk semua masalah mereka


Sombong karena saya adalah seorang Certified Hypnotherapist yang dapat membantu orang-orang meringankan beban serta masalah hidupnya dengan metode terapi menggunakan hypnosis

Yaaa itu adalah contoh beberapa kesombongan saya dan masih banyak kesombongan-kesombongan saya yang lainnya. Berbekal kesombongan-kesombongan itulah saya merasa bahwa saya pasti mampu menyelesaikan masalah-masalah saya sendiri, dan saya terus mendorong diri saya sekuat mungkin untuk menyelesaikan semuanya hingga batas akhir kemampuan saya, dan hasilnya adalah… 0 (Nol Besar), hasilnya NOTHING.
 
Dimasa-masa kritis saya kala itu tanpa sengaja saya melihat sebuah gambar yang diposting disalah satu akun Twitter yang saya follow dan sayangnya saya lupa nama akunnya karena saya terlalu fokus kepada isi dari gambar postingan akun tersebut yaitu sebagai berikut :







Membaca isi dari gambar tersebut di atas membuat jantung saya seolah-olah berhenti berdetak untuk beberapa saat, dan disaat yang bersamaan air mata saya  mulai mengalir perlahan sampai pada akhirnya saya tidak dapat membendungnya lagi, saya menangis tesedu-sedu dan merasakan sakit yang luar biasa, rasanya seperti ada yang menohok dada saya hingga terasa amat sesak dan rasanya hati ini begitu perih bagai diiris sembilu.

Saya terlalu sombong dan angkuh untuk memasrahkan semua persoalan hidup saya, saya terlalu sibuk mencari bantuan dari orang-orang disekitar saya untuk menjadi sandaran saat saya pilu.

Saya terlalu sombong untuk mengingat-Nya


Sesungguhnya saya tidak butuh bahu untuk bersandar dan menangis karena saya memiliki sajadah yang terbuka lebar untuk bersujud


Saya tidak perlu bercerita kisah pilu saya kepada orang-orang disekitar  karena saat saya tidak mampu berkata-kata cukuplah air mata ini sebagai pengganti bahasa


Sesungguhnya DIA Maha Mengetahui  akan segala hal permasalahan yang sedang saya hadapi

Kejadian ini adalah tamparan keras bagi saya dan kesombongan saya, yang bahawasannya diantara yang kuat ada yang Maha Kuat, diantara yang tahu ada yang Maha Tahu dan sesungguhnya diantara semua permasalahan yang ada kita sudah tahu kemana kita harus berlari dan mengadu.

Katakanlah : “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS. At-Taubah : 51).

Demikian sharing saya kali ini, mohon tidak dicontoh hal-hal buruknya dan semoga dapat membawa sedikit pencerahan bagi teman-teman yang mungkin sedang menghadapi beragam persoalan yang lebih berat daripada saya ingatlah La tahkaf wa la tahzan. Innaloha ma’ana ….. Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati. Sesungguhnya Allah ada bersama kita.



Tuesday, August 18, 2015

Wudhu ~ More Than Just an Ablution



“Barang siapa yang ber Wudhu dan membaguskan Wudhunya, maka akan keluarlah dosa-dosa dari badannya, sampai-sampai ia akan keluar dari bawah kuku-kukunya.” 
(HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah)




Picture : https://kitamuslim1.files.wordpress.com


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,


Beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis tentang pentingnya mengetahui arti serta makna dari bacaan Sholat agar kita dapat lebih khusyuk dalam melaksanakan Sholat dan juga kita menjadi lebih bersungguh-sungguh karena Sholat itu sendiri adalah doa yang kita panjatkan kepada Allah agar senantiasa kita mendapatkan pengampunan serta mengharapkan rahmat serta ridho hanya dari Allah semata.

Senada dengan tulisan saya sebelumnya tentang pentingnya kita mengetahui segala makna, maksud dan tujuan akan sesuatu yang telah, sedang dan akan kita lakukan, kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu yang saya peroleh ketika membaca Jurnal yang ditulis oleh Prof. Dr. Leopold Werner Von Ehrenfels, seorang Psikiater dan sekaligus Neurology berkebangsaan Austria, kali ini saya akan berbagi tentang makna serta manfaat dari salah satu proses bersuci, yaitu Wudhu.

Rasulullah menyuruh umatnya untuk menyempurnakan Wudhu, ternyata memang banyak kesalahan ber Wudhu yang sering kita lakukan karena masih belum memahami makna dan fakta menakjubkan di balik menyempurnakan Wudhu.

Saya baru tahu bahwa pusat-pusat syaraf yang paling peka dari tubuh manusia ternyata berada di sebelah dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat syaraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar dan dari sinilah ditemukannya  hikmah di balik Wudhu yang membasuh pusat-pusat syaraf tersebut.

Selain itu, ahli syaraf/neurologist pun telah membuktikan dengan air Wudhu yang mendinginkan ujung-ujung syaraf jari-jari tangan dan jari-jari kaki berguna untuk memantapkan konsentrasi pikiran.

Perhatikanlah bahwa anggota tubuh yang wajib dan sunah dibasuh air Wudhu merupakan bagian tubuh yang memiliki banyak titik-titik akupuntur, setelah dihitung-hitung… ternyata terdapat 493 titik reseptor pada anggota Wudhu.
Ratusan titik akupunktur tersebut bersifat reseptor terhadap stimulus berupa basuhan, gosokan, usapan, dan tekanan/urutan ketika melakukan Wudhu.

Stimulus tersebut akan dihantarkan melalui meridian ke sel, jaringan, organ dan sistim organ yang bersifat terapi. Hal ini terjadi karena adanya sistem regulasi yaitu sistem syaraf dan hormon bekerja untuk mengadakan homeostasis (keseimbangan). Masya Allah... Bayangkan jika kita melakukan hal tersebut setiap hari paling sedikit 5 kali sehari.

Berikut ini beberapa gerakan Wudhu yang sering salah kita lakukan, begini  menyempurnakannya:

1. Rangsangan di Tangan & Kaki

Coba ingat-ingat saat kita membasuh telapak kaki & tangan, apakah sela-sela jari tangan dan kaki sering kita abaikan? kita sering sekadar cuci tangan di bawah pancuran air tanpa menggosok-gosoknya,  padahal ada fakta menarik yang perlu diketahui, yaitu di antara sela-sela jari tangan dan kaki terdapat masing-masing satu titik istimewa (Ba Sie pada sela-sela jari tangan & Ba Peng pada sela-sela jari kaki). Jadi, keseluruhannya terdapat 16 titik akupunktur. Berdasarkan riset pakar akupunktur, titik-titik tersebut apabila dirangsang dapat menstimulasi bio energi (Chi) guna membangun homeostasis (keseimbangan). Sehingga menghasilkan efek terapi yang memiliki multi indikasi, seperti untuk mengobati migren, sakit gigi, tangan-lengan merah, bengkak dan jari jemari kaku. 

2. Membersihkan Rongga Hidung

Selanjutnya, hal yang sering diabaikan dalam Wudhu adalah menghirup air ke dalam hidung, kita sering kali hanya membasuh hidung, dan tidak menghirup air masuk ke rongga hidung kemudian mengeluarkannya kembali (istinsyaaq). Penelitian dari Universitas Aleksandria membuktikan bahwa kebanyakan orang yang ber Wudhu secara continue, maka hidung mereka bersih dan bebas dari debu, bakteri dan mikroba. Lubang hidung merupakan tempat yang rentan dihinggapi mikroba dan virus, tetapi dengan membasuh hidung secara continue dan melakukan istinsyaaq (memasukkan air kedalam hidung kemudian mengeluarkannya ketika ber Wudhu), maka lubang hidung menjadi bersih dan terbebas dari radang dan bakteri.

3. Berkumur-kumur

Yang tak kalah penting adalah kumur-kumur dan bahkan Rasulullah menganjurkan setiap kali akan Sholat. Penelitian modern membuktikan bahwa berkumur dapat menjaga mulut dan tenggorokan dari radang dan menjaga gusi dari luka. Berkumur juga dapat menjaga dan membersihkan gigi dengan menghilangkan sisa-sisa makanan yang terdapat di sela-sela gigi setelah makan.  Manfaat berkumur lainnya yg juga penting adalah menguatkan sebagian otot-otot wajah dan menjaga kesegarannya. Berkumur merupakan latihan penting yang diakui oleh pakar dalam bidang olahraga, karena berkumur jika dilakukan dengan menggerakkan otot-otot wajah dengan baik dapat menjadikan jiwa seseorang tenang.

4. Reseptor Syaraf Telinga

Lain lagi tentang telinga, kita sering kali hanya membasahi telinga, padahal di daun telinga ternyata terkandung banyak sekali titik reseptor syaraf telinga, maka itu saat menyapu telinga jangan hanya membasuh saja, tapi harus dengan pijatan juga. Ini namanya aurikulopressure alias pijat akupunktur telinga.

Jelas bahwa menyempurnakan Wudhu sungguh bermanfaat luar biasa untuk diri kita. Semoga Allah memudahkan kita untuk menyempurnakan Wudhu.




Semoga bermanfaat ^^