“Tetapi
aku (percaya bahwa) : Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan
seorangpun dengan Tuhanku”
(QS. Al-Kahf : 15)
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarokatuh,
Akhir-akhir
ini saya sedang senang berbagi sedikit kisah pribadi saya, semoga teman-teman
tidak bosan ya hehehe. Setelah kemarin saya sharing tentang pengalaman saya
dalam mengahadapi cobaan hidup, nah sekarang saya kembali akan sharing tentang
pengalaman pribadi saat saya mulai hijrah
dan tarbiyah.
Saya
lahir ditengah-tengah keluarga yang pemahaman agamanya bisa dibilang biasa-biasa
saja, saya pun menjalankan segala kewajiban perintah agama yaaa begitu-begitu
saja, jadi apa yang diajarkan oleh orang tua yaaa saya jalani saja untuk cari
aman tanpa memikirkan atau bertanya kenapa saya harus menjalankan hal itu dan
juga tanpa adanya dasar keyakinan yang tertanam dalam diri saya.
Ketia
saya duduk dibangku SMA saya mengalami sebuah masa-masa kritis yang dimana saya
mempertanyakan tentang semua hal yang terjadi dalam hidup saja, mulai dari hal yang sederhana sampai hal yang
sifatnya mulai kompleks seperti apa makna dari kehidupan dan mengapa saya
harus beragama. Saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk menyendiri dan
mulai mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan saya dari berbagai macam sumber, dari bertanya kepada orang-orang yang saya anggap kompeten membaca buku sampai dengan mempelajari beberapa kitab suci sebagai rujukan.
Saya
pernah merasakan menjadi murid yang bandel dengan melakukan “cabut” alias tidak
mengikuti kegiatan belajar mengajar, dan saya memilih membaca buku di
perpustakaan, nilai raport saya sempat menurun sampai orang tua saya dipanggil ke
sekolah karena wali kelas saya merasa bahwa saya seperti memiliki “dunia lain”
dan tidak mengindahkan kehidupan yang terjadi di sekitar saya dan yang paling
parah saya sempat dipanggil guru agama dan juga diberikan ceramah oleh Kakak
kelas yang meminta agar saya segera “bertaubat” karena menurut mereka saat itu
pemikiran saya yang kritis mulai mendekati musyrik hehehe.
Saat
itu saya juga membaca banyak buku Filsafat
dan Tasawuf dari berbagai sumber dan
penulis yang beragam. Saya juga pernah merasakan di bully oleh teman-teman saya karena saya dikira mengikuti aliran
sesat dan saat itu orang tua saya juga memberikan saya banyak buku rohani dan
keagaamaan untuk saya baca agar saya tidak tersesat di jalan yang salah.
Jujur,
dulu saya merasa tertekan dan terpojok karena dimasa-masa ketika saya memiliki ribuan
pertanyaan akan makna dan hakikat hidup justru saya malah dijauhi dan dianggap
sesat, padahal sesungguhnya saya hanya butuh kekuatan untuk mendamaikan dan
meyakinkan diri ini atas apa yang telah dan akan saya lakukan dalam hidup.
Namun kini saya tidak menyalahkan mereka untuk segala bentuk sikap yang telah mereka lakukan kepada saya justru
kadang hal ini membuat saya senyum-senyum sendiri, bayangkan saja saat itu ada anak perempuan usia 16 tahun yang dimana anak-anak
sebayanya sedang menjalani kehidupan remaja yang penuh suka cita saya malah sibuk belajar filsafat, berkontemplasi dan mencari makna hidup...yaa pasti
dianggap anehlah hehehehe.
Itulah
sepenggal kisah saya dalam proses pencarian jati diri yang jika saya ceritakan
semuanya nanti pasti kepanjangan hehe mungkin lain kali akan saya bahas secara
terpisah bagaimana akhir dari proses “pencarian” saya untuk memperoleh
pencerahan.
Sekarang saya ingin berbagi sebuah kisah
ilustrasi sederhana yang sangat saya sukai tentang seseorang yang sedang
mencari Tuhan.
Adalah seorang pemuda
yang lama sekolah di luar negeri, ia telah kembali ke tanah air, sesampainya di
rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama (Ustadz)
/siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaan darinya. Akhirnya orang tua pemuda
itu mendapatkan orang tersebut.
Pemuda : (Dengan nada sombong pemuda itu
bertanya) "Anda siapa...?? dan apakah bisa menjawab pertanyaan
saya...??"
Ustadz : "Saya hanyalah hamba ALLAH
& dengan izin-NYA saya akan menjawab pertanyaan anda"
Pemuda :(Tetap dengan nada sombong) "Anda
yakin....?? sedang profesor & banyak orang pintar tidak mampu menjawab
pertanyaan saya"
Ustadz : "Insya Allah saya akan
mencoba sejauh kemampuan saya...!!"
Pemuda : "Saya punya 3 buah
pertanyaan...??
- Kalau memang TUHAN itu ada, tunjukkan wujud TUHAN kepada saya?
- Apakah yang dinamakan TAKDIR...??
- Kalau SETAN diciptakan dari api, kenapa dimasukkan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat setan, sebab mereka memiliki unsur yang sama? apakah TUHAN tidak pernah berpikir sejauh itu?
Tiba-tiba pemuka agama
tersebut menampar pipi si pemuda dengan keras.
(sambil menahan sakit) si Pemuda berkata : "Kenapa...?? Anda marah kepada saya...??"
Ustadz : "Saya
tidak marah...!!! Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang
anda ajukan kepada saya...!!"
Pemuda : "Saya
sungguh-sungguh tidak mengerti...??!!"
Ustadz : "Bagaimana
rasanya tamparan saya...??!!"
Pemuda : "Tentu
saja saya merasakan sakit...!!"
Ustadz : "Jadi Anda
percaya bahwa sakit itu ada...?!!"
Pemuda : "Ya...
saya Percaya...!!"
Ustadz : "Tunjukkan
pada saya wujud sakit itu...??!!"
Pemuda : "Saya
tidak bisa...!!"
Ustadz : "Itulah
jawaban pertanyaan pertama, kita semua merasakan keberadaan TUHAN tanpa mampu
melihat wujud-NYA.
Ustadz : "Apakah
tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya..??!!"
Pemuda :
"Tidak...!!"
Ustadz: "Apakah
pernah terpikir oleh Anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari
ini...??!!"
Pemuda :
"Tidak...!!"
Ustadz : "Itulah
yang dinamakan TAKDIR...!!"
Ustadz : "Terbuat
dari apakah tangan yang saya gunakan untuk menampar anda...??!!"
Pemuda :
"Kulit...!!"
Ustadz : "Terbuat
dari apa pipi Anda...??!!"
Pemuda :
"Kulit...!!"
Ustadz : "Bagaimana
rasanya tamparan saya...??!!"
Pemuda :
"Sakit...!!"
Ustadz : "Walaupun
setan terbuat dari api dan neraka terbuat dari api, jika TUHAN berkehendak,
maka neraka akan menjadi tempat menyakitkan bagi setan".
Pertanyaan-pertanyaan si
Pemuda di atas kurang lebih sama dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan
pada saat saya duduk di bangku SMA dulu, namun beruntung bagi saya karena untuk
“menemukan” Tuhan saya tidak perlu ditampar hehe.
“Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga)
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang
kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal : 27)
Semoga
cerita pengalaman pribadi dan juga kisah di atas bisa membantu bagi teman-teman
yang mungkin saat ini masih dalam proses “mencari”, semoga memberikan sedikit
pencerahan dan ingatlah bahwa hidayah
itu tidak akan datang dengan sendirinya jika kita tidak mencarinya ia tidak
akan menghampiri kita, maka dari itu selain berdoa dan memohon agar diberikan
hidayah…..jemputlah hidayah itu agar datang kepada kita.
Jika
masih penasaran dengan kisah saya tentang proses “pencarian”, tunggu di postingan berikutnya ya hehehe.
Semoga
bermanfaat ^^

like ☺
ReplyDeletesemoga istiqomah dalam kebaikan
..f..
Aaaamiiin, masih proses pembelajaran Mba :) terima kasih sudah mampir
Deletemasyaallah, perjalanan yang panjang ya mbak.. :)
ReplyDeletesemoga kita semakin istiqomah di jalan Allah..