Tuesday, June 9, 2015

A Dream Chaser

The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams ~

                                                             Picture :  http://www.keepcalmandposters.com/posters/1146982.png

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,
 
Seperti yang sempat saya singgung di tulisan pembukaan sebelumnya, saya akan sharing mengapa saya memilih nama dream chaser sebagai alamat blog saya lebih tepatnya dream chaser id, yang artinya :

Dream   : Mimpi
Chaser  : Pengejar
Id          : Indonesia

Jadi artinya seorang Pengejar Mimpi (Pemimpi) yang berasal dari Indonesia / orang Indonesia sederhana bukan hehe… sebetulnya arti dari kata dream chaser tidak sesederhana itu karena untuk mendapatkan nama tersebut saya telah melewati beragam proses pengalaman berharga yang luar biasa yang dimana akan sangat sayang jika pengalaman itu tidak saya bagikan dengan orang lain.

Sekitar tahun 2009, saat itu saya bekerja di salah satu perusahaan makanan cepat saji (untuk informasi detail nya akan saya share ditulisan saya berikutnya juga jadi mohon bersabar hehe), saat itu saya bekerja sebagai Staff Rekrutmen di Departemen HRD. Sebagai orang HRD sudah tentu kita mengenal seluruh karyawan ya, karena HRD adalah Departemen yang menjembatani antara perusahaan dan karyawan.

Saat itu saya kenal dengan seorang karyawan dari Departemen Maintenance yang berinisial S.M.E atau panggil saja ia Bpk. Suhaib Marham Effendi (Semoga orangnya tidak marah namanya saya cantumkan :D ), entah bagaimana awalnya dan apa motivasinya mungkin karena ia melihat hidup saya tidak terarah dan tanpa tujuan yang jelas, pada suatu hari ia meminta saya untuk menulis 100 mimpi atau  harapan yang saya inginkan disebuah buku, meskipun awalnya saya tidak mengerti dan saya sempat nego mengapa harus 100 karena menurut saya terlalu banyak namun akhirnya saya menuruti saja apa yang ia katakan.

Saya menuliskan 100 mimpi atau harapan saya dan tentu saja isinya hanya saya yang tahu saya tidak perlihatkan kepada Pak Suhaib karena sifatnya personal, setelah saya menulis lalu saya laporkan kepada beliau dan beliau memimta saya untuk membuat time table dari 100 mimpi tersebut kapan target pencapainya dan ditargetkan diusia berapa saya akan meraih mimpi-mimpi tersebut.

Lagi…dengan agak bingung dan masih belum mengerti saya mengikuti saja saran beliau bahkan saat itu saya seolah-olah sudah dapat melihat gambaran apa saja yang akan saya capai saat saya berusia 48 tahun.

Setelah saya membuat time table, saya kembali laporan kepada Pak Suhaib (untuk menghindari fitnah saat itu kami berkomunikasi melalui email kantor dan tidak berbicara langsung). Setelah saya selesai melapor lalu Pak Suhaib membalas email saya dan berkata “Tunggu, setelah itu saya akan memberikan instruksi selanjutnya dan bagaimana tahapan untuk meraih mimpi-mimpi tersebut”.

Akhirnya saya menunggu instruksi selanjutnya, dan saat itu saya tetap menyimpan daftar mimpi serta target pencapaiannya di buku catatan saya.

Setelah menunggu cukup lama…..saya mendapatkan berita bahwa Pak Suhaib mengundurkan diri dari kantor tempat kami bekerja dan ya memang benar saat saya konfirmasi beliau mengundurkan diri dan sejak saat itu kami tidak pernah ada komunikasi lagi. Beliau “meninggalkan” saya dengan daftar mimpi yang saya tidak tahu harus saya apakan tersebut dan juga tidak memberikan instruksi lagi apa yang harus saya lalukan dengan daftar mimpi tersebut.

Sebetulnya sejak saat itulah saya mulai menjadi seorang pemimpi dan mengapa akhirnya saya meng-klaim bahwa saya adalah seorang Pengejar Mimpi atau A Dream Chaser (detailnya akan saya tulis di tulisan saya berikutnya), namun seiring dengan kepergian Pak Suhaib akhirnya saya biarkan buku tersebut tergeletak begitu saja di rak buku dan saya menjalani hari-hari seperti biasa.
 


No comments:

Post a Comment