Tuesday, October 31, 2017

Endless Love





Semua bejalan seperti biasanya setiap akhir pekan kami bertiga selalu makan malam bersama  dan pria itu selalu menjadi orang pertama yang selesai makan dan segera beranjak meninggalkan meja makan. Tidak lama kemudian wanita itu juga selesai menyantap makan malamnya dan memberi isyarat padaku bahwa ia akan merapihkan meja makan, aku tidak menjawab hanya memberikan isyarat juga bahwa akupun sudah selesai makan.

Ia mulai mengangkat piring-piring kotor dan saat  akan mengambil piring kotor bekas pria itu makan ia diam mematung sambil menatap piring kotor itu dengan nanar dan penuh kebencian. Belum sempat aku berkata apa-apa kepadanya, dengan secepat kilat ia melempar piring itu kelantai dan hancurlah piring itu hingga berkeping-keping.

“Sudah 20 tahun berlalu, mengapa engkau masih saja menyisakan makananmu ? mengapa engkau masih saja membiarkan suapan terakhirmu ? aku bukan dia….aku bukan dia yang akan memakan suapan terakhirmu, aku sudah muak dengan semua ini !!!”.

Melihat kejadian itu aku pun membanting piring kotor yang masih kupegang “Aku juga sudah muak dengan sikapmu, sampai kapan kau akan terus bersikap seperti ini ? mengapa kau masih saja cemburu dengan Ibuku yang sudah mati?” ucapku.

Tidak lama kemudian pria yang tadi meninggalkan meja makan kembali menghampiri namun ia hanya mampu berdiri…ya…hanya berdiri sambil melihat apa yang terjadi dan aku tahu ia menyimpan luka dan perih yang tak terperi.


Sunday, October 22, 2017

A Confession



Dari kejauhan aku sudah mengenali orang yang aku cari dari pakaian yang ia kenakan, melihatnya berdiri disana ingin rasanya aku langsung mendekat , namun apa daya kerumunan orang-orang membuatku sulit untuk bergerak, semua tampak saling berhimpitan dan terasa begitu sesak.

Aku mencoba mengalihkan perhatianku dari dirinya, namun hati kecil ini berkata bahwa aku harus mendekatinya, akhirnya dengan penuh keraguan aku berusaha melangkah perlahan. Aku berpegangan pada apa saja yang dapat aku pegang dan mencoba memanggil pria itu dari kejauhan.

Rupanya ia tetap berdiri tak bergeming dan tidak mendengar bahwa aku memanggilnya, justru orang-orang di sekeliling yang mendengar dan menoleh padaku seraya memberikan aku jalan agar aku dapat dengan mudah mendekatinya.

Setelah perjuanganku yang cukup sulit akhirnya aku berada tepat di belakang pria itu, dan aku kembali memanggilnya “Mas…” ia menoleh dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.  “Mas…saya hamil” ucapku. Ia menatatpku seolah tidak percaya, pun dengan orang-orang disekitar kami, mereka ikut menatapku sambil terdiam.

Sebetulnya berat bagiku untuk memberitahukan kehamilanku kepadanya karena aku ragu apakah hal ini akan membawa kebaikan atau tidak, namun jika aku tidak memberitahukannya sepertinya ia tidak tahu dan ia tidak akan melakukan tanggung jawabnya untuk menjagaku.

Aku mengulangi kata-kataku “Mas..saya hamil” ia kembali menatapku, melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu terdiam. Aku dia mematung menunggu apa yang akan ia lakukan setelah aku memberitahunya bahwa aku hamil, dan tidak lama kemudian ia melihat-lihat kedepan dan belakang seraya berkata “Mohon kursi prioritasnya ya…ini ada Ibu hamil” ucapnya sambil memberiku isyarat agar aku mengikutinya ke gerbong kereta yang isi penumpangnya campur antara pria dan wanita.