Tuesday, March 22, 2022

Indahnya Ramadhan Bersama Buah Hati




Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh,

 

Ramadhan tiba

Ramadhan tiba

Ramadhan tiba


Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan

 

Ramadhan tiba semua bahagia

Tua dan muda bersuka cita

Bulan ampunan bulan yang berkah

Bulan terbebas api neraka

Andaikan saja Ramadhan semua

Bulan yang tiba bulan yang ada

Karena besarnya setiap pahala

Yang di janjikan kepada kita

 

Itu adalah penggalan lirik lagu Opick yang berjudul “Ramadhan Tiba” yang rasanya sangat pas sekali dengan momen saat ini yaitu sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan bertabur pahala.

Dulu saat saya kecil saya selalu excited dalam menyambut bulan Ramadhan, tapi bukan karena mengejar pahala melainkan karena  bulan Ramadhan uang jajan biasanya utuh, selain itu setiap hari suka hunting takjil atau mengumpulkan berbagai jenis makanan untuk berbuka puasa walaupun pada kenyataannya nanti pas buka tidak dimakan semua karena keburu kenyang. Dan puncak dari bulan Ramadhan tentu saja adalah hari lebaran yang dimana bisa berkumpul dengan saudara-saudara dan juga mendapatkan salam tempel (dulu waktu kecil pikirannya gak jauh-jauh dari makanan dan uang jajan hehehe).

Waktu berlalu dengan begitu cepat, jika dulu saya adalah seorang anak kecil yang selalu bersemangat dalam menyambut bulan Ramadhan, maka beberapa tahun belakangan ini saya adalah seorang Ibu yang harus menciptakan suasana  agar anak-anak saya juga ikut bersemangat dalam menyambut bulan Ramadhan. Meskipun mereka belum baligh tapi sebagai orang tua saya memiliki kewajiban untuk mengenalkan tentang keutamaan berpuasa kepada anak-anak.

Pada tanggal 20 Maret 2020 saya berkesempatan untuk mengikuti Seminar Parenting dengan tema : “Indahnya Ramadhan Bersama Buah Hati”. Pembicaranya adalah Ustadz Aries Setyawan yaitu seorang motivator pendidikan dan juga pakar parenting. Materi yang dibahas adalah tentang peranan orang tua dalam mendampingi anak-anaknya saat Ramadhan. Dan berikut ini beberapa poin penting yang saya catat dan ingin bagikan dengan teman-teman semua yang sudah memiliki buah hati.

6 Langkah Asyik Dampingi Anak Saat Ramadhan

1. Membuat Jadwal Harian

Buat jadwal kegiatan harian anak-anak mulai dari bangun tidur dipagi hari sampai dengan tidur kembali diwaktu malam. Dan tentu saja kegiatan-kegiatan harian tersebut disesuaikan dengan kegiatan dibulan Ramadhan.  Lalu jangan lupa untuk selalu mengontrol dan juga mengevaluasi apakah kegiatan-kegiatan yang telah dibuat itu dilaksanakan dengan baik atau tidak.

2. Mendekorasi Rumah

Kegiatan mendekorasi rumah merupakan salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan yang dapat dilakukan bersama anak-anak, selain melatih daya imajinasi serta kreatifitas anak juga dapat menjadi media untuk bonding antara orang tua dan anak-anak. Misalnya adalah dengan membuat poster Ramadhan untuk di tempel di pintu atau ditembok, membuat hiasan gantung, dll.

3. Latih Kepedulian Sosial

Selain mengenalkan keutamaan berpuasa, bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk melatih kepedulian sosial kepada anak. Misalnya adalah dengan menyisihkan uang jajan untuk ditabung yang selanjutnya nanti digunakan untuk sedekah, berbagi takjil, berbuka bersama dengan anak yatim, dll.

4. Merancang Menu Ramadhan

Salah satu kegiatan seru yang dapat dilakukan di bulan Ramadhan adala menyiapkan makanan untuk berbuka bersama-sama sambil menunggu waktu berbuka tiba. Para orang tua dapat melibatkan anak dalam merancang menu, lalu berbelanja bersama, memasak, dll.

5. Sibukkan Dengan Aktivitas Kebaikan

Agar anak tidak merasa bosan dan untuk mengalihkannya dari rasa lapar ketika berpuasa kita dapat membuat rangkaian kegiatan yang dapat mengalihkan perhatian anak. Misalnya adalah dengan melekukan kegiatan-kegiatan positif seperti mengaji, sholat sunnah, mendengarkan kajian, mendaftarkannya mengikuti kegiatan pesantren kilat, dll.

6. Variasikan Dengan Permainan Islami

Selain menyibukkan anak-anak denga aktivtas kebaikan seperti yang disebutkan di atas, kita juga bisa membuat permainan islami untuk dimainkan bersama anak-anak. Selain untuk mengisi waktu juga dapat bermanfaat untuk menambah wawasan anak. Misalnya adalah dengan tanya jawab seputar sejarah agama islam, siroh nabi, sambung ayat al-qur’an, tebak nama-nama surat dalam al-qur’an, dan lain sebagainya.

Naah itulah beberapa tips untuk para orang tua dalam mendampingi anak di bulan Ramadhan. Semoga kita semua dapat memanfaatkan bulan penuh berkah ini dengan sebaik-baiknya. Semoga bermanfaat.

 

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.

 

Wednesday, March 2, 2022

Look Inside

 


Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh,

Hallo teman-teman semua apa kabar? Semoga teman-teman semua dalam keadaan sehat yaaa. Kali ini saya ingin sharing tentang pengalaman pribadi saya yang mungkin di luar sana ada juga teman-teman yang merasakan hal yang sama, yaitu tentang sebuah perasaan yang membuat kita merasa tertinggal jauh oleh pencapaian orang-orang yang berada di sekitar kita.

Pertengahan tahun lalu, saat saya memutuskan untuk kembali mengaktifkan beberapa akun Social Media saya, banyak sekali teman-teman lama yang menyapa dan juga bertukar cerita. Sebagian besar dari mereka bertanya selama ini saya kemana saja, lalu kegiatan saya saat ini apa, tinggal dimana, dll. Maklum saja mereka penasaran karena selain memutuskan untuk menutup akun Social Media selama kurang lebih 3 tahun lamanya, saya juga mengganti nomor ponsel saya dan memang tidak ada yang tahu nomor saya yang baru selain keluarga dekat saja.

Dari sekian banyak teman lama yang menyapa ada beberapa teman yang katanya merasa "iri" dengan kehidupan saya saat ini karena saya sudah berada pada posisi yang nyaman dan sudah tidak sedang "berjuang" lagi. Padahal tanpa mereka tahu sampai detik ini pun saya masih berjuang dengan kehidupan saya namun mungkin jenis perjuangannya saja yang berbeda dengan mereka.

Saya berjuang melewati masa-masa sulit saat menjadi seorang Ibu baru, merasakan dilema yang luar biasa ketika sempat menjadi Working Mom, lalu merasa lelah ketika membesarkan anak-anak dengan jarak yang berdekatan, dll. Bukannya saya tidak bersyukur tapi saya hanya memberitahukan keadaan yang sesungguhnya bahwa saya pernah melewati masa-masa sulit dan pernah merasa tidak baik-baik saja.

Selain itu saya juga pernah merasakan insecure yang luar biasa ketika saya merasa hidup saya yaa begini-begini aja. Diam di rumah fokus membersamai anak-anak, merasa tidak memiliki skill dan prestasi, merasa tertinggal, dan lain sebagainya. Tapi  ketika melihat kebelakang setelah saya berhasil melalui masa-masa sulit tersebut justru sekarang saya merasa bangga kepada diri saya sendiri karena telah berhasil melalui semua itu.

Begitupun dengan kehidupan teman-teman saya yang katanya merasa hidupnya biasa-biasa saja, justru saya melihatnya mereka luar biasa, misalnya adalah ketika mereka berkata :

"Ibu enak banget sekarang hidupnya, kalau aku mah gini-gini aja belum ada perubahan apa-apa".

(Padahal dulu ia adalah seorang Staf Administrasi sekarang sudah menjadi Marketing Assisstant Manager).

"Ibuuu seneng yaa sekarang udah stay di rumah aja sambil ngurus suami dan anak, gak mikirin kerjaan lagi."

(Padahal dulu saat saya rekrut ia baru lulus SMK bahkan KTP saja belum punya, sekarang sudah menjadi konsultan pajak).

"Doain aku ya Bu biar makin berkembang lagi dan punya karir yang bagus, soalnya sekarang kerjaan rasanya masih gini-gini aja belum mapan”.

(Padahal dulu saat pertama kali saya interview ia masih kuliah semester 2 dan saya rekrut sebagai Call Center Agent, sedangkan sekarang ia sudah menjadi seorang Business Development Manager dan sedang menyelesaikan Thesis S2 nya).

Dari situ saya belajar, bisa jadi kita merasa kehidupan kita biasa-biasa saja karena kita terlalu sering membandingkan kehidupan kita dengan orang lain dan hal itu tanpa disadari membuat kita merasa minder, merasa lemah, dan merasa tidak mampu. Padahal yang sebetulnya terjadi adalah bisa saja apa yang orang lain tampilkan adalah hanya hasil akhir yang indah-indahnya saja dan tidak memperlihatkan sisi lain saat sedang berdarah-darahnya.

Sebetulnya sah-sah saja jika kita ingin mencari motivasi dan inspirasi dari kehidupan orang lain, tapi jangan sampai hal itu membuat kita menjadi minder dan tidak percaya diri apalagi sampai membuat kita merasa rendah diri, coba lihat kedalam diri lebih dalam lagi sebetulnya kita tidak seburuk apa yang kita pikirkan.

Mulai saat ini coba rubah mindset kita untuk tidak membandignkan diri kita dengan orang lain, namun coba bandingkan diri kita hari ini dengan diri kita hari kemarin.

Apakah kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin atau malah sebaliknya?

 Apakah kita sudah memperbaiki kesalahan-kesalahan kita di masa lalu atau malah sebaliknya?

Apa saja pencapaian-pencapaian yang selama ini sudah dapat kita raih?

Setelah kita melihat kedalam diri kita apakah kita masih merasa bahwa hidup kita begini-begini saja tanpa adanya perubahan?

Dan satu hal yang pasti hidup ini dinamis dan setiap orang memiliki waktunya masing-masing kapan harus terbang dan kapan harus tenggelam. Tugas kita adalah untuk tetap berjuang sampai harapan berada dalam pelukan. Sekian sharing dari saya semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.

Tuesday, February 8, 2022

Kamu Sudah Dewasa Belum?

 

 



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,    

    Beberapa waktu yang lalu saya merapikan buku-buku yang sudah mulai berjejalan tak beraturan di rak buku, lalu saya melihat ada sebuah buku yang tampak sudah usang dengan cover berwarna biru tua dan beberapa halamannya tampak sudah keriting karena tak terurus. saya mencoba membuka-buka buku usang itu sambil duduk di depan rak buku tanpa mempedulikan  buku-buku lain yang minta dirapikan.

    Buku itu berjudul Effective Psychology For Managers yang ditulis oleh Mortimer R. Feinberg Ph.D, saya lupa kapan saya mulai memiliki buku itu namun semenjak saya bekerja di dunia HRD saya memang memperbanyak wawasan saya seputar Sumber Daya Manusia, Psikologi, dan hal-hal lain yang menunjang profesi dan pekerjaan saya kala itu. Karena saat itu saya sedang tidak memiliki waktu luang untuk membaca, saya hanya melihat daftar isi dari buku tersebut secara umum, namun ternyata  ada satu bab yang menarik perhatian saya, yaitu bab 4 yang membahas mengenai Kedewasaan dan Kematangan.

    Bab tersebut membahas topik seputar tingkat kedewasaan dan kematangan seseorang dilihat dari cara berpikir, berperilaku dan bertindak. Dan berikut ini beberapa tanda-tanda seseorang yang sudah dewasa dan matang, diantaranya yaitu :

  1. Tanda atau petunjuk terhadap kesuksesan seseorang ialah pertumbuhannya, atau prestasinya yang semakin berkembang dan kematangan emosinya.
  2. Kalau seseorang sudah matang, dia tidak akan terus secara apriori atau bersikap “berjuang” secara emosi atau melarikan diri dari problema-problema, tapi ia akan sanggup untuk menghadapi problema-problema itu secara objektif.
  3. Orang yang lebih cerdas akan cenderung mempunyai perkembangan emosi yang lebih baik dan superior serta mempunyai penyesuaian atau kematangan sosial yang lebih baik.
  4. Kematangan emosi dinyatakan atau ditandai dengan bagaimana konflik-konflik dipecahkan dan bagaimana kesakitan ditangani. Orang yang sudah dewasa memandang kesulitan-kesulitannya bukan sebagai “malapetaka” tetapi sebagai “tantangan”.
  5. Orang yang dewasa adalah orang yang sabar dan mengumpulkan informasi-informasi sebelum memberikan saran pemecahan.
  6. Orang yang dewasa akan bangun dan segar kembali dari luka dan goncangan-goncangan hidup dengan harapan dan daya tahan. Ia tidak akan berpura-pura seolah-olah semuanya baik, tetapi ia akan menerima kenyataan bahwa rasa sakit harus dipikul, kesalahan harus diperbaiki, dan ia tidak akan memboroskan waktu untuk menyesali dan meratapi hal-hal yang sudah lewat.
  7. Orang yang sudah dewasa adalah orang yang teratur dan sudah terorganisir, dan yang menangani bermacam-macam problemanya dengan efektif.

    Beberapa poin di atas tentu saja tidak dapat dijadikan standar baku dalam menilai tingkat kedewasaan seseorang, namun bagi saya pribadi setelah membacanya saya jadi tersadar dan mendapat insight yang cukup mendalam dalam menilai diri saya sendiri dalam menyikapi berbagai macam masalah atau kendala dalam menjalani hidup. Saya sering mendengar istilah “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan” karena nyatanya tua secara usia belum memang belum tentu dewasa dan matang secara sikap dan pemikiran. 

Demikian sedikit catatan yang dapat saya bagikan, semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

 

Friday, December 1, 2017

The Precious Things



Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh,


Beberapa hari yang lalu saya sempat mengalami krisis air karena Water Tank atau yang dikenal dengan sebuat Toren di rumah saya mati karena ada komponennya yang lepas, dan saya baru menyadarinya ketika akan mengambil wudhu untuk sholat Maghrib awalnya air yang keluar mengecil dan lama-lama mati tidak mengeluarkan air sama sekali, ternyata selama seharian ini  Toren tersebut tidak mengisi ulang dan saya tidak menyadari hal itu.

Menjelang waktu Isya suami pulang dari tempatnya bekerja, namun karena kondisi sudah malam dan juga karena Toren tersebut terletak di atas atap rumah kami maka tidak memungkinkan bagi suami untuk langsung mengeceknya saat itu juga.

Akhirnya kami melewati malam yang terasa begitu panjang dengan menghemat-hemat sisa air yang hanya tinggal 1 ember besar saja, kebetulan kami memang tidak punya penampungan air selain Toren bahkan di kamar mandipun kami tidak memiliki bak mandi, yang ada hanya 1 buah ember besar saja. Air tersebut kami gunakan hanya untuk berwudhu dan jaga-jaga jika anak kami buang air besar.

“You don’t know what you’ve got ‘till its gone” rasanya kutipan tersebut cukup mewakili perasaan saya kala itu hehehe. Setelah kejadian tersebut saya merasakan betapa satu hal kecil saja jika sudah tidak ada keberadaanya maka rasanya akan menyulitkan sekali dan menimbulkan penyesalan.

Begitulah rasanya baru kehilangan air satu malam saja apalagi jika saya kehilangan hal lain yang jauh lebih besar dan jauh lebih penting keberadaanya seperti 5 perkara yang disabdakan oleh Rasulullah ? jika mengingat hadits itu hati saya selalu teriris perih karena mengingat kualitas diri yang rasanya masih banyak kekurangannya.

Betapa selama ini saya terlena akan kenikmatan yang saya miliki dan lupa bahwa semua itu akan hilang dan pergi pada masanya, yang tersisa hanyalah penyesalan dan tak kan dapat terulang. Teman-teman semua pasti tahu kan 5 perkara sebelum 5 perkara yang saya maksud yaitu hadits berikut ini, dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda bahwa :

  1. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu.
  2. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu.
  3. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu.
  4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu.
  5. Hidupmu sebelum datang kematianmu.


Semoga kita semua dapat memanfaatkan sisa waktu yang kita miliki dengan hal-hal baik yang mendekatkan diri kita kepada Allah karena kita semua tidak pernah tahu kapan jantung ini akan berhenti berdetak, bisa lusa, bisa besok atau bahkan hari ini.



Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.








Sunday, November 26, 2017

A True Winner







Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh,


Suatu hari, sekumpulan pemuda Muslim tengah berkumpul dan bertanding mengadu kekuatan : siapa yang bisa menggerakkan sebuah batu besar, maka dia akan dianggap sebagai jagoan.

Kebetulan Nabi Muhammad SAW. Lewat. Beliau bertanya : “Apa yang tengah kalian lakukan?”

“Kami sedang mengadu kekuatan kami. Kami ingin melihat siapa diantara kami yang paling kuat,” jawab mereka.

“Inginkah kalian tahu siapa yang paling kuat dan energitik ?” tanya Nabi.

“Tentu, ya Rasulullah.” Sahut mereka. “Adakah wasit lain yang lebih baik dari Anda, yang bisa memberikan gelar kebanggaan kepada kami ?”.

Mereka berpikir, bahwa sebentar lagi Nabi akan mengumumkan siapa yang akan jadi juara dan tangan orang itu akan diangkat oleh Nabi.

Baginda bersabda : “Seorang juara dan yang paling kuat adalah : “

  • Orang yang jika dia suka dan tertarik akan sesuatu, maka rasa sukanya itu tidak melalaikannya dari ikatan yang haq dan kemanusiaan, serta tidak menjerumuskannya ke dalam kejahatan.
  • Jika dia marah dan dikuasai oleh emosinya, maka dia dapat mengontrol dirinya, tidak mengatakan sesuatu kecuali yang benar dan tidak akan keluar dari mulutnya kata-kata dusta atau keji.
  • Jika dia berkuasa dan tidak satu pun yang bisa mengekangnya, maka tangannya tidak akan mengambil melebihi haknya.

Kisah di atas saya kutip dari Wasa’il Asy-Syi’ah, jilid II, hal 429, dan merupakan salah satu kisah Rasulullah yang paling saya sukai, kisah pengingat karena saya pribadi masih sangat lemah dalam melawan diri sendiri dan selama ini memaknai kekuatan dengan arti dapat mengalahkan keadaan dan dunia, namun diri sendiri masihlah dikuasai oleh perasaan yang kerdil dan dapat menjerumuskan kedalam lembah dosa.

Semoga kita semua manjadi pribadi yang kuat dalam arti sesungguhnya dan tidak termasuk kedalam golongan mereka yang merugi, Aamiin.




Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.












Misteri Lemari Tua






Pada suatu tengah malam,


Istri        : “mau kemana ?”

Suami    : “mau ngerjain sesuatu.” Sambil bangun dari posisi  
                   tidurnya.

Istri        : “ngerjain apa ?”

Suami    : menatap sang istri sejenak lalu pergi keluar dari 
                  kamar tanpa memberikan jawaban.

Sang istri penasaran, tidak lama kemudian sang istri mendengar suara dari ruang tamu, lalu ia memberanikan diri untuk mengintip dari celah kamar tidur mereka dan melihat sang suami tampak duduk bersimpuh menghadap pada sebuah lemari tua namun tak terlihat apa yang sedang ia lakukan.





Keesokan harinya,


Istri        : “tadi malem ngapain duduk depan lemari ?”.

Suami    : memberikan isyarat agar sang istri mengikutinya
                  dan mendekati lemari yang dimaksud “ini lemari 
                  udah tua banget”.

Istri        : “terus  kenapa ?” tanya sang istri.

Suami    : “pintunya udah mulai rapuh, kuncinya ilang, 
                  bahaya kalau kebuka makanya tadi malem diiket 
                  pake tali”.

Istri        : “bahaya kenapa ?”.

Suami    : “isinya buku-buku penting, kalau ga diiket nanti 
                   dibuka sama anak kita terus isinya diberantakin      
                   nanti bukunya pada rusak.”

Istri        : “kenapa harus tengah malem sih ngiket nya?”

Suami    : “soalnya baru inget pas bangun tengah malem      
                   kalau besok-besok takut ga sempet.”

Istri        : “terus pas ditanya kenapa ga jawab tadi malem ?”

Suami    : “karena pasti kamu larang kan malem-malem 
                   ngiket pintu lemari pasti disuruh besoknya 
                   ngerjainnya.”

Istri        : “phew”.












Stalking or Being Stalked ?





Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh,


Hallo Dreamers, beberapa hari yang lalu saya menerima notifikasi dari akun linkedin melalui email saya bahwa ada beberapa orang yang melihat profile saya di akun linkedin tersebut. Saat saya cek ternyata ada 2 orang mantan atasan saya, ada 2 orang mantan rekan kerja saya dan ada juga beberapa Rekruter yang melihat dan mengirimkan pesan menawari pekerjaan kepada saya. Menurut saya pasti ada beberapa alasan mengapa mereka melihat profile saya entah karena kepo, kangen (mungkin) atau tidak sengaja kepencet hehehe.

Saya jadi teringat beberapa waktu yang lalu saat saya masih aktif sebagai HRD bahwasannya social media pun turut memiliki andil dalam proses rekrutmen maupun mengelola karyawan, diantaranya yaitu :

  • Ada beberapa User yang setelah saya memberikan CV kandidat kepada mereka baik yang sudah saya interview maupun  yang belum, mereka meminta saya untuk stalking socmed calon karyawan tersebut, jika isinya terlihat banyak foto yang menunjukkan sikap atau bahasa tubuh yang tidak baik dan dlihat dari tulisan statusnya  yang berisi umpatan dan SARA maka User tersebut akan menjadikan kandidat tersebut sebagai second priority.
  • Tidak hanya saya yang sering stalking akun socmed kandidat, ternyata banyak juga kandidat yang stalking akun socmed saya, biasanya sesaat setelah saya menghubungi mereka baik melalui email atau telepon. Setelah itu saat bertemu untuk interview tidak jarang dari mereka yang suka SKSD dan sotoy tentang diri saya “Ibu pernah kerja disini ya ? …Ibu lulusan dari kampus itu ya ?... Ibu gabung di komunitas itu ya ? “ dll. Selain itu ada juga yang menanyakan hasil tes atau interview dengan mengirimkan pesan ke socmed atau dengan mention akun saya meskipun saya tidak pernah menyetujui permintaan pertemanan dari mereka.
  • Tak sedikit juga karyawan yang sering berkeluh kesah di akun socmed mereka, mulai dari yang curhat ringan sampai yang menjelek-jelekkan atasan dan membuka aib perusahaan tempat mereka bekerja, jika hal ini diketahui maka biasanya perusahaan akan menyelesaikannya dengan cara hukum.

Disadari atau tidak, kini akun socmed seolah-olah berperan sebagai identitas diri kedua kita setelah KTP bahkan informasi yang diberikan jauh lebih lengkap dibandingkan KTP dan didalam akun socmed kita dapat melakukan banyak hal, beda dengan KTP yang hanya di taruh di dalam tas atau dompet  saja.

 “Don’t judge a book by it’s cover” sepertinya kurang tepat jika diaplikasikan pada akun socmed, karena bagaimanapun juga kita pasti akan melihat seseorang dari apa yang mereka tampilkan di socmed jadi mau tidak mau penilaian kita pun sebatas apa yang kita lihat dan apa yang kita tampilkan di akun kita adalah cerminan dari diri kita sendiri.

Saya pernah membaca Comment war 2 orang mantan  rekan kerja saya, si A meluapkan unek-unek nya kepada seseorang hingga mengeluarkan nama-nama binatang dan kata-kata tidak pantas lainnya sepertinya beliau memang sedang tertekan dan marah besar. Lalu si B mengingatkan , namun  jawaban si A adalah “akun…ya akun gue terserah gue mau ngapain aja, kok jadi situ yang rese ngurusin postingan gue, kalau ga suka sama postingan gue unfriend aja atau block sekalian, gitu aja kok repot.”

Si A memang benar akun beliau seolah-olah adalah “rumah” nya sendiri jadi terserah dirinyalah mau melakukan apa saja, namun si B juga benar saat ia melihat ada seorang teman yang berkata tidak baik maka ia berusaha mengingatkannya, namun yang menjadi masalah adalah tidak semua orang mau mendengar nasihat dan setiap orang merasa bahwa dirinya yang benar, apalagi kita sebagai manusia adalah makhluk pemilik ego yang tinggi sehingga banyak diantara kita yang inginnya berbicara dan didengar saja dan kurang suka menjadi pendengar.

Satu hal yang harus digaris bawahi adalah bahwa segala jenis tindak tanduk kita di dunia ini akan diminta pertanggung jawabannya dihari akhir kelak dan disadari atau tidak, ada yang Maha Tahu meski tanpa di beri tahu yang selama 24 jam “stalking” apapun hal yang kita lakukan tanpa terlewat sedetikpun. Jadi berikanlah amalan terbaik kita baik dalam kehidupan nyata maupun didunia maya.


Tulisan ini bukan untuk menggurui namun sebagai pengingat diri.




Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.








Dikira Maling




Istri        : Masuk kedalam kamar dengan mindik-mindik dan 
                  berjalan jinjit berniat untuk menekan tombol on-  
                  off mesin air yang entah mengapa dipasang di 
                  dalam kamar. 

Namun belum sempat jarinya menekan tombol on-off tersebut, lalu……

Suami    : Membuka matanya lalu lompat dari tempat tidur 
                  sambil berteriak “AAAARRRGGGGHHHH !!! ”

Istri        : Terkejut dan berteriak “AAAARRRRRGGGHH !!! 
                  Kenapa, ada apa ?”

Suami    : “Ada maling.” Jawab nya dengan histeris.

Istri        : Panik ….. “mana malingnya ?”

Suami    : “Kamuuu maling !!!”

Istri        : Pergi ke dapur mengambil ulekan untuk getok 
                  suaminya.










Friday, November 17, 2017

Pillow Talk





Percakapan melalui WhatsApp :

Istri        : “Sayaaaang, ini ada artikel tentang Pillow Talk 
                    bagus deh, nanti baca ya !”

Suami    : “Ok”

Sesaat sebelum tidur :

Istri        : “Sayaaaang, tadi udah baca artikel tentang Pillow
                   Talk nya ?”

Suami    : “Oiya…lupa belum baca, emang kenapa kamu mau 
                    beli bantal yang bisa ngomong?”


Istri        :  --------makan bantal, lalu pingsan---------




Couple Dress





Istri        : “Sayaang, ini baju siapa ada di keranjang cucian ?”

Suami    : “Itu seragam baru, batik dari kantor, buat dipake
                    setiap hari kamis sekarang batiknya seragam dari 
                    kantor ga boleh pake batik motif bebas lagi.”

Istri        : “Kok motifnya bunga-bunga sih?”

Suami    : “ Yaa ga tau kan kantor yang nentuin motifnya.”

Istri        : “Terus…teruss…karyawan wanita batiknya sama 
                    begini juga?”

Suami    : “Iya sama.”

Istri        : “iiiiiihhh…kok gitu sih, berarti kalian bajunya 
                    couple-couple an dong, kita aja ga punya baju 
                    couple.”


Suami    : “Kan itu seragam kantor, bukan mau kondangan, 
                    semua orang sibuk kerja masing-masing ga ada 
                    yang couple-couple an.”




Dead in Slience





Anak      : Ibu, aku lelah.

Ibu         : Diam, jangan bertingkah.

Anak      : Ibu, aku sedih.

Ibu         : Diam, jangan menangis.

Anak      : Ibu, aku kecewa.

Ibu         : Diam, jangan mengeluh.

Anak      : Ibu, aku ingin mati saja.


Ibu         : Matilah dalam diam.

Friday, November 10, 2017

Keep Standing Tall




Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh,


Hallo Dreamers, pada tanggal 04 November 2017 kemarin saya dan teman-teman Liqo mendapatkan amanah untuk menjadi panitian Liqo gabungan dan juga diminta untuk mengundang pembicara dari luar, Alhamdulillah salah satu dari teman kami mempunyai kenalan seorang Ustadzah yang sangat inspiratif sekali yakni Ustadzah Tri Handayani.
Tema Liqo pekan lalu adalah “Tegar Di Jalan Dakwah”, namun sebelum Ustadzah atau yang familiar dengan panggilan Ummi Tri memulai materi,  beliau bercerita tentang kondisi beliau yang dimana ternyata beliau adalah seorang Cancer Survivor sampai detik ini pun beliau masih berjuang melawan penyakit kanker. Tidak tanggung-tanggung ada 7 jenis kanker yang “menyerang” tubuh beliau.

Beliau sudah berkali-kali menjalani operasi, sempat koma hingga 7 hari, divonis tidak akan memiliki keturunan dan bahkan diprediksi tidak akan memiliki usia yang panjang, itu prediksi ilmu manusia…. qodarulloh beliau masih dapat berdiri tegaksampai  saat ini untuk berbagi ilmu dengan kami suami dan saat ini beliau sudah memiliki 2 orang putra yang sudah beranjak dewasa.

Saat ini Ummi Tri mendedikasikan dirinya untuk berdakwah , dengan kondisi fisik yang sedemikian rentan namun semangat beliau yang membara dapat mengalahkan semuanya ditambah lagi dengan adanya dukungan dari suami serta putra-putra beliau yang luar biasa. Jujur saya dan teman-teman yang hadir tidak dapat menahan air mata kami untuk menetes mendengar kisah hidup beliau. Air mata haru dan takjub yang luar biasa sehingga kami merasa “malu hati” jika melihat kondisi fisik kami yang Alhamdulillah diberikan kesehatan oleh Allah namun masih saja “jalan di tempat” dalam kegiatan dakwah.

Setelah bercerita sedikit seputar kisah hidupnya Ummi Tri pun berbagi ilmunya dengan kami sesuai dengan tema yang kami usung yakni “Tegar Di Jalan Dakwah”, berhubung kemarin saat menghadiri Liqo Gabungan saya sambil membawa anak dan merangkap menjadi Seksi Dokumentasi, maka saya tidak sempat mencatat poin-poin penting dari materi yang diberikan, namun Alhamdulillah sambil menggendong anak saya sempat mendengarkan ceramah dan memotret slide beliau yang kurang lebih materinya seperti dibawah ini setelah saya sunting seperlunya namun tidak merubah  inti dari materinya :






“Tegar Di Jalan Dakwah” Oleh Ustadzah Tri Handayani


Landasan berdakwah    : Amar ma'ruf dan Nahi munkar (QS. Al-Imran: 104)

Mengapa harus berdakwah :

  1. Sudah menjadi sunnatullah - dakwah akan terus ada, berdakwah tidak melulu dengan cara ceramah dan harus menjadi  Ustadzah karena inti berdakwah adalah "mengajak".
  2. Melanjutkan dakwah Rasulullah SAW.
  3. Menegakkan khilafah islamiyah.
  4.  Menghadapi dan mencari solusi dari kondisi umat saat ini.
  5.  Menghadang & melawan segala bentuk kemungkaran.
  6. Mengkawal hukum islam dalam pengamalannya di tengah umat.
  7. Menghadapi musuh-musuh Allah SWT dengan berbagai kelicikan mereka.

Tingkatan dakwah terdiri dari :

  1. Dakwah fardhiyah/pribadi.
  2. Dakwah keluarga.
  3. Dakwah masyarakat.
  4. Dakwah umat.

Karakter jalan dakwah yaitu :

  1. Keras, terjal, panjang, dan berliku.
  2. Penuh ujian dan cobaan yang menghadang.
  3. Lelah, kurang istirahat, hasilnya tidak dapat langsung dilihat/dinikmati.
  4. Pengorbanan harta, waktu, tenaga, pikiran, air mata, darah, hingga nyawa.
  5. Banyak yang mencemooh, menghina, dan menghujat.
  6. Tidak banyak yang mau mengikuti/sedikit pengikutnya

Keutamaan dakwah yaitu :

  1.  Dakwah menjadi utama karena ia adalah Muhimmatur Rasul (tugas para nabi dan rasul.
  2. Dakwah adalah Ahsanul Amal (sebaik-baik amal).
  3. Dengam berdakwah seorang muslim meraih meraih pahala yang teramat besar (Al husnul 'alal ajri al azhim) dan kenikmatan abadi di surga-Nya.
  4. Dakwah dapat menyelamatkan da'i dari adzab Allah SWT dan pertanggungjawaban di akhirat.
  5.  Dakwah adalah jalan menuju terbentuknya Khairu Ummah (umat yang terbaik).
  6. Dakwah membawa seorang da'i pada kehidupan Rabbaniyah (Al hayah ar rabbaniyah) dan menuju pada kehidupan barakah (Al hayah al mubarakah).

Karakter yang diperlukan dalam berdakwah :

  1. Memiliki iman yang kuat.
  2. Memiliki ahlaqul karimah.
  3.  Sabar dan ikhlas.
  4. Cerdas dan berwawasan luas.

Kiat tegar di jalan dakwah :

  1. Interaksi dengan Alquran (QS. 25: 32-33).
  2. Iltizam (komitmen) dengan syariat dan amal shalih (QS. 14:27).
  3. Banyak berdoa (QS. 2:186).
  4. Senantiasa berdzikir kepada Allah (QS. 8:45)
  5. Kuatkan tarbiyah :
a)     Tarbiyah imaniyah (pembinaan).
b)     Tarbiyah ilmiyah (ilmu).
c)      Tarbiyah wa'iyah (sadar).
d)     Tarbiyah  mutadarijjah (bertahap).

  1. Berada di antara kader-kader dakwah yang tegar (QS. 9:16).
  2. Yakin akan pertolongan Allah dan masa depan milik islam (QS. 3:146).
  3. Aktif melakukan amal shalih bagi diri, keluarga, masyarakat, dan umat.

Saya pribadi sering berpikir dan berkata kepada diri sendiri “Ahh ga bisa dakwah”, “Aah bukan Ustadzah”, “Aah repot ngurus suami”, “Aah repot ngurus anak” dan banyak alasan-alasan lainnya yang membuat saya urung berdakwah, Astaghfirulloh…….padahal dakwah tidaklah sesulit seperti yang saya bayangkan asalkan ada niat yang kuat dan keinginan yang dapat  direalisasikan, berdakwah bisa dimulai dari hal-hal yang kecil dan juga  dari lingkungan serta orang-orang terdekat kita.

Melihat Ummi Tri dengan segala keterbatasannya beliau mampu berdakwah dan membuat dirinya berguna bagi orang lain dalam rangka mengharap ridho Illahi rasanya diri ini bagaikan dicambuk dan wajah ini seperti ditampar-tampar. Oiya pada saat sesi tanya jawab kemairn ada yang bertanya seputar  tips bagaimana caranya Ummi Tri dalam mengatur waktunya antara mengurus keluarga serta  aktifitas berdakwah dan inilah tips dari beliau :

Kiat-kiat manajemen waktu (sebagai Da'iyah, ibu, dan istri) :

  1. Komunikasi antar anggota keluarga itu penting,  semua anggota keluarga kita setidaknya harus memahami jadwal kita dan terlebih harus memahami urgensi berdakwah. Tak hadirnya kita di rumah bukan berarti kita tak memberikan perhatian untuk keluarga.
  2. Ukur skala prioritas. Kesibukan tak akan menjadi halangan jika kita telah memiliki skala prioritas / manajemen waktu yang baik.
  3.  Tidak ada loss time. Ingat tak ada yang sia-sia jika kita beramal murni untuk keridhaan Allah (dalam hal ini berdakwah).
  4. Biasakan untuk muhasabah diri untuk menghindari Futuur Iman.


“Aku menyebutnya pelangi. Hidupku adalah silih bergantinya warna pelangi yang memberi makna berbeda-beda dalam hidupku. Orang bilang pelangi punya tujuh warna primer yang cerah. Tapi aku menambahkan warna hitam di dalamnya. Ya, hitam selalu tersisih. Kita sering menyebut hal negatif dengan hitam, padahal hitam hanyalah tampak dalam pandangan kita. Ada banyak warna di balik warna hitam. Warna pelangi tidak akan indah jika tidak ada warna hitam di langit sebelum datangnya pelangi. Inilah kisah pelangiku.”


Kutipan di atas adalah tulisan Ustadzah Tri Handayani dalam bukunya yang berjudul “Mengejar Pelangi” yang ditulis bersama dengan Pipiet Senja.

Semoga semangat serta ilmu yang beliau sampaikan dapat menginspirasi kita semua agar tidak menunda-nunda dalam berbuat kebaikan dan juga tidak lelah dalam berdakwah, semoga bermanfaat.



Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.